Teori Dasar Metode Pelaksanaan Peledakan
TEORI
DASAR METODE PELAKSAAN PELEDAKAN
PEKERJAAN TEROWONG PENGELAK
BENDUNGAN BENDO, PONOROGO
2.1 Uraian Umum.
Waduk (reservoir) adalah danau alam atau danau
buatan, kolam penyimpan atau pembendungan sungai yang bertujuan untuk menyimpan
air baik untuk kebutuhan air irigasi, air bersih dan juga mencegah banjir. Oleh
sebab itu, direncanakan pembangunan waduk bendo dengan membangun bendungan
sebagai bangunan penahan air.
Bendungan
adalah suatu bangunan air yang dibangun khusus untuk membendung (menahan)
aliran air yang berfungsi untuk memindahkan aliran air atau menampung sementara
dalam jumlah tertentu kapasitas / volume air dengan menggunakan struktur
timbunan tanah homogen (Earthfill Dam),
timbunan batu dengan lapisan kedap air (Rockfill
Dam), konstruksi beton (Concrete Dam)
atau berbagai tipe konstruksi lainnya.
Dengan pesatnya
perkembangan teknologi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan bendungan
telah mengaburkan batasan secara jelas pengelompokan tipe bendungan, karena
sebagai akibat dari usaha para perancang concrete
dams dan geotechnical engineers
dalam mengatasi permasalahan bendungan timbunan (Embankment Dams) untuk menurunkan biaya konstruksi, pemeliharaan
serta untuk mendapatkan nilai ekonomis yang lebih tinggi.
Pekerjaan terowongan
pengelak air merupakan salah satu pekerjaan inti dari proyek waduk Bendo.
Karena itu, perencanaan terowongan pengelak air pun haruslah terencana
berdasarkan data-data yang sudah didapatkan pada survei praperencanaan. Dari
data-data tersebut maka didapatlah as terowongan baik di pintu masuk terowongan
(inlet) dan di pintu pengeluaran (outlet).
Pada
proses penggalian terowongan pengelak air terdapat beberapa alternative metode,
antara lain menggunakan metode pengeboran dengan mesin bor yang besar ataupun
metode peledakan. Untuk pekerjaan penggalian terowongan pengelak air di Waduk
Bendo digunakan metode peledakan. Penentuan metode peledakan yang didasarkan
pada struktur tanah galian di lokasi terowongan pengelak air yang berupa batuan
Brescia.
2.2
Pekerjaan
Peledakan (Blasting Method).
2.2.1
Konsep Dasar Peledakan.
Kegiatan
peledakan pada massa batuan mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
1.
Membongkar atau melepaskan batuan (bahan
galian) dari batuan induknya.
2.
Memecah dan memindahkan batuan.
3.
Membuat rekahan.
Bahan peledak
merupakan sarana yang efektif sebagai alat pembongkar batuan dalam pengerjaan
terowongan pengelak air air. Oleh karena itu, perlu dimanfaatkan sebagai barang
yang berguna, di samping juga merupakan barang yang berbahaya. Untuk itu, dalam
pelaksanaan pekerjaan peledakan harus hati-hati sesuai dengan peraturan dan
teknik-teknik yang diterapkan, sehingga pemanfaatannya lebih efisien dan aman.
Teknik peledakan
yang dipakai tergantung dari tujuan peledakan dan pekerjaan atau proses
lanjutan setelah peledakan. Untuk mencapai pekerjaan peledakan yang optimum
sesuai dengan rencana, perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1.
Karakteristik batuan yang diledakkan.
2.
Karakteristik bahan peledak yang
digunakan.
3.
Teknik atau metode peledakan yang
diterapkan.
Suatu proses
peledakan biasanya dilakukan dengan cara membuat lubang tembak yang diisi
dengan sejumlah bahan peledak, dengan penerapan metode peledakan, geometri
peledakan dan jumlah bahan peledak yang sesuai untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan.
2.2.2
Persiapan Peledakan.
Persiapan
peledakan adalah semua kegiatan, baik teknis maupun tindakan pengamanan yang
ditujukan untuk dapat melaksanakan peledakan dengan aman dan berhasil.
Persiapan peledakan dapat dibagi atas beberapa bagian atau tahapan kerja
diantaranya :
1. Pengamanan lapangan kerja selama pelaksanaan
persiapan peledakan, ini dimaksudkan untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan atau terjadinya kerusakan pada alat-alat tambang maupun keamanan
pekerja tambang.
2. Persiapan alat bantu peledakan, antara
lain : detonator, kabel pembantu, kabel utama, blasting ohm meter dan blasting
machine.
3. Pembuatan primer; yang berfungsi untuk
menghentakkan (shock) isian utama
atau blasting agent, sedangkan primer
itu sendiri dihentakkan dengan detonator.
4.
Pengisian lubang ledak, syarat pengisian
lubang ledak adalah :
a. Periksa lebih dahulu keadaan lubang. Pemerikasaan
ini dapat dilakukan dengan pantulan sinar dari sepotong cermin atau tongkat
kayu yang cukup panjang.
b. Waktu pengisian ke dalam lubang ledak
harus hati-hati sehingga detonator atau leg
wire tidak rusak.
c. Hindari pemakaian leg wire yang terlalu pendek, namun kalau terpaksa
sambungan-sambungan harus diisolasi dengan baik.
d.
Jangan memadatkan primer (tapping).
e. Diameter primer harus lebih kecil dari
diameter lubang ledak. Bila waktu memasukkan primer agak susah turunnya ke
dalam lubang maka dapat dibantu atau didoromg dengan tongkat kayu secara
perlahan-lahan.
f. Setelah primer telah sampai benar-benar
didasar lubang maka bahan peledak dapat dimasukkan. Bila memakai bahan peledak
ANFO maka dilarang memadatkannya sehingga berat jenisnya bertambah.
g.
Pengisian bahan peledak, paling banyak
dua per tiga dari tinggi lubang ledak.
5.
Stemming;
syarat pengisian stemming adalah
sebagai berikut:
a.
Bahan stemming adalah tanah liat atau cutting
pemboran.
b. Stemming
harus dibuat cukup padat, untuk itu perlu dipadatkan (di-tapping) dengan tongkat kayu.
c.
Stemming
diusahakan bisa memperkecil suara peledakan.
6.
Sistem Rangkaian.
Dalam melakukan
penyambungan detonator listrik ada empat cara atau sistem rangkaian, antara
lain :
a.
Hubungan Seri.
Rangkaian
yang disusun secara seri, arus dari sumber tenaga hanya melalui satu jalan.
Jumlah arus yang melalui setiap detonator adalah sama. Rangkaian seri sangat
cocok untuk meledakkan jumlah detonator yang tidak banyak, maksimum 50 buah
atau tahanannya 100 ohm. Arus minimum untuk peledakan dalam rangkaian seri
adalah 1,5 Ampere untuk DC dan 2,0 Ampere untuk AC.
b.
Hubungan Paralel.
Dalam
rangkaian paralel setiap cabang hanya berisi satu detonator, tahanan detonator
dalam rangkaian paralel adalah kecil dan yang terbesar adalah tahanan firing line. Salah satu jalan untuk
menambah total arus yang mengalir dalam setiap detonator adalah mengurangi
tahanan firing line. Caranya adalah
dalam peledakan tersebut dipakai firing
line dengan kawat yang ukurannya lebih besar. Arus yang mengalir dalam rangkaian
dibatasi 10 Ampere. Sedangkan arus minimum yang mengalir untuk setiap detonator
adalah 0,5 Ampere.
c.
Rangkaian Seri Paralel.
Pada
rangkaian Seri-Paralel, masing-masing seri dihubungkan satu dengan yang lainnya
dalam paralel. Rangkaian ini biasanya dipakai apabila jumlah detonator dalam
peledakan lebih dari 50 buah. Setiap seri dibatasi tidak lebih dari 40
detonator atau tahanan maksimumnya 100 ohm. Dalam rangkaian paralel-seri jumlah
arus yang mengalir dalam firing line
dibagi dalam masing-masing seri yang diperhatikan bahwa tahanan di setiap seri
adalah sama atau tahanan satu seri mendekati serta sama dengan tahanan seri
yang lainnya. Hal ini disebut series balancing dan akan menjamin bahwa
total arus yang mengalir dalam firing
line terbagi sama pada setiap seri.
d.
Hubungan Paralel Seri.
Rangkaian
paralel-seri merupakan kebalikan dari rangkaian seri-paralel dimana setiap
rangkaian paralel digabungkan dalam hubungan seri dengan sambungan paralel
lainnya.
7.
Penyambungan Rangkaian.
Dengan
menggunakan detonator listrik maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Sambungan leg wire dengan kabel pembantu harus baik dan kuat.
b. Penyambungan rangkaian antara semua
lubang ledak harus dilaksanakan secepatnya dan ujung rangkaian diikat satu sama
lain, sebelum dihubungkan dengan kabel utama.
c. Rangkaian harus dibuat rapi dan efektif,
hindari kabel agar tidak kusut dan terlipat.
d. Sebelum rangkaian antara lubang ledak
disambung dengan kabel utama, maka tahanan listrik dan kesinambungan arus dari
rangkaian harus di test dengan blasting
ohm meter. Tahanan listrik rangkaian harus sesuai dengan perhitungan teoritis,
namun dengan toleransi 10% dapat dianggap baik.
8.
Setelah semuanya aman maka selanjutnya
siap diledakkan dengan blasting machine.
2.2.3
Parameter Rancangan Peledakan.
Parameter
rancangan peledakan merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan dan
pelaksanaan peledakan lapisan penutup, adapun parameter yang perlu diperhatikan
yaitu :
1.
Ketinggian teras (bench height).
Ketinggian
teras biasanya ditentukan oleh parameter dilapangan misalnya jangkauan oleh
peralatan bor dan alat gali-muat yang tersedia. Tinggi jenjang disesuaikan
dengan kemampuan alat bor dan diameter lubang, dimana jenjang yang rendah
dipakai diameter lubang kecil sedangkan diameter lubang bor besar utnuk jenjang
yang tinggi. Penerapan tinggi jenjang dilapangan bervariasi, tergantung dari
posisi endapan bahan galian.
2.
Diameter lubang ledak (hole diameter).
Untuk
mencapai tingkat penyebaran energi yang baik digunakan diameter lubang
peledakan (mm) yang sebanding dengan ketinggian teras (m) dikalikan 8, atau
didasarkan pada ketersediaan alat bor yang dipakai. Secara umum diameter lubang
akan sedikit lebih besar daripada diameter mata bor yang mengakibatkan
kepadatan pengisian lebih tinggi.
Sumber : Perencanaan Peledakan.
Gambar
2.1 Peledakan Pada Bidang Bebas Memanjang Dengan Pola
V-cut Bujur Sangkar dan Penyalaan Tunda Close Interval.
3.
Burden
Burden
adalah jarak dari lubang peledakan ke bidang bebas yang terdekat. Penentuan burden tergantung pada densitas batuan,
densitas bahan peledak (bahan peledak yang digunakan), diameter bahan peledak
atau diameter lubang peledakan, dan fragmentasi yang dibutuhkan. Peledakan
dengan jumlah row (baris) yang
banyak. Penentuan burden tergantung
penggunaan bentuk pola peledakan yang digunakan, bila peledakan digunakan delay detonator dari tiap-tiap baris delay yang berdekatan akan menghasilkan free face yang baru.
4.
Spacing.
Spacing
adalah jarak diantara lubang tembak dalam baris (row) yang sama, tegak lurus terhadap burden, baik untuk nomor delay
yang sama maupun beda waktu delaynya.
Distribusi energi optimum diperoleh apabila jarak lubang sebanding dengan
dimensi burden dikalikan 1,15 dan
polanya disusun dengan konfigurasi yang berselang-seling. Jika spacing lebih kecil daripada burden, cenderung mengakibatkan stemming injection yang lebih dini.
5.
Stemming.
Stemming
adalah penempatan material isian (cutting
pemboran) diatas bahan peledak pada lubang peledakan untuk menahan energi,
mencegah terjadinya gelombang tekanan udara (air blast) dan batuan melayang (flying
rock) yang disebabkan tekanan gas-gas hasil ledakan. Ukuran stemming secara umum dapat ditentukan
dengan cara dimensi burden dikalikan dengan 0,7.
Di
lapangan, biasanya material stemming
yang digunakan adalah cutting pemboran,
yang menjadi masalah adalah pada saat musim hujan; untuk mengisi lubang ledak
dengan material stemming, susah
karena basah. Lubang ledak yang basah membutuhkan material stemming yang lebih banyak untuk pengungkungan energi bahan peledak
daripada lubang ledak yang kering, karenanya perlu ditentukan pengungkungan
relatif (i = RC) dari suatu bahan
peledak sehingga energi dapat tertahan dengan baik. Faktor pengungkungan
relatif bersifat sangat spesifik terhadap lokasi, tergantung pada kondisi
geologi disekitar lubang peledakan. Secara umum pengungkungan relatif harus
lebih besar dari 1,4 untuk mencegah hilangnya energi yang terkungkung secara
berlebihan.
6.
Subdrilling.
Subdrilling
merupakan jarak pemboran lubang peledakan
yang berada di bawah dasar teras (jenjang). Subdrilling perlu untuk menghindari problem tonjolan (toe) pada lantai, karena dibagian ini
merupakan tempat yang paling sukar diledakkan. Dengan demikian gelombang ledak
yang ditimbulkan pada lantai dasar jenjang akan bekerja secara maksimum.
Peledakan dengan subdrilling memberikan tegangan tarik yang cukup besar
pada dasar jenjang, selain itu juga mengurangi keterikatan dengan bagian
lainnya yang menyebabkan bagian dasar mudah hancur dan tidak terjadi tonjolan (toe). Secara umum panjang subdrilling dapat ditentukan paling
tidak 0,3 ~ 0,5 kali panjang burden.
7.
Kedalaman Lubang Ledak.
Merupakan
dimensi tinggi teras ditambahkan dengan dimensi panjang subdrilling
8.
Volume Hasil Ledakan.
Volume
hasil ledakan merupakan dimensi burden
(B) dikalikan dengan jarak lubang dalam satu row yang sama (S) serta dikalikan dengan ketinggian teras (H). Satuan
volume hasil ledakan dinyatakan dalam bank cubic metric (BCM), untuk
mendapatkan volume dalam satuan Ton,
dikalikan dengan densitas batuan.
9.
Kepadatan Pengisian.
Kepadatan
pengisian merupakan jumlah bahan peledak setiap satuan panjang, sama dengan 0,000785
dikalikan dengan densitas bahan peledak dikalikan dengan kuadrat diameter bahan
peledak.
10.
Blasting
Ratio.
Blasting Ratio
adalah jumlah berat bahan peledak setiap volume hasil ledakan. Penerapan Blasting Ratio dilapangan jarang tepat
karena pengaruh pengisian bahan peledak.
11.
Kofigurasi Pola Lubang Peledakan.
Hal
ini tergantung pada diameter lubang ledak, sifat-sifat batuan, sifat-sifat
bahan peledak, tinggi jenjang dan hasil yang diinginkan. Pada umumnya ada tiga
jenis pola peledakan yang sering diterapkan, yaitu pola persegi panjang (rectangular), pola bujur sangkar (square), dan pola selang-seling (staggered).
2.2.4
Hal-Hal Yang Perlu Dipertimbangkan
Dalam Membuat Rancangan Peledakan.
Dalam merencanakan kegiatan / pekerjaan peledakan.
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pekerjaan peledakan, sebagai
berikut :
1.
Kepekaan Lokasi.
Kondisi
lokasi di sekitar lokasi peledakan dalam hal prakiraan getaran dan tingkat
getaran yang diperbolehkan pada struktur terdekat.
2.
Fragmentasi yang diperlukan.
3.
Perpindahan tumpukan material hasil
ledakan (muckpile).
Arah
perpindahan tergantung pada jalur daya tahan paling kecil yang dapat ditelusuri
energi bahan peledak, dimana rancangan peledakan yang tepat (stemming yang baik, distribusi energi
yang tepat, toe yang kecil, dll);
urutan delay dapat mengendalikan arah
dan tingkat perpindahan material hasil ledakan.
4.
Pengendalian dinding.
Interval
delay yang terlalu singkat antara
lubang dalam satu baris dan antar baris dapat menyebabkan overbreak yang
berlebihan.
5.
Geologi.
Batuan
berlapis-lapis dengan kohesi terbatas dapat bergeser sehingga menyebabkan
patahnya bahan peledak. Sedangkan batuan besar yang banyak retakannya dapat
mengalirkan gas bahan peledak ke semua arah sehingga meningkatkan potensi
terjadinya cut off. Batuan yang lunak memerlukan waktu yang lebih lama
untuk melakukan perpindahan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama antara
baris-baris untuk mengendalikan pecah yang berlebihan.
6.
Kondisi air.
Batuan
jenuh (lubang peledakan yang terisi air) dapat meneruskan tekanan air dari
titik peledakan ke daerah-daerah di sekitarnya (water hammer). Tekanan ini dapat menyebabkan decoupling isi
bahan peledak atau meningkatkan densitasnya sampai ke titik yang tidak
memungkinkan peledakan (dead pressed)
7.
Bahan peledak yang digunakan.
Bahan
peledak adalah suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran yang berbentuk
padat, cair, gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi panas,
benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia
eksotermis sangat cepat yang hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk
gas dan disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih
stabil.
Produk
bahan peledak dengan densitas yang lebih besar (> 1,25 g/cc) yang
menggunakan udara tersirkulasi untuk mengatur kepekaan, mudah terkena dead pressing dari peledakan
lubang peledakan yang berdekatan.
Gambar
2.2 Bshan
Peledak Industri Menurut Mike Smith.
8.
Sederhana.
Rancangan
yang rumit akan memerlukan waktu tambahan untuk menghubungkan dan mengevaluasi
rangkaian (dengan memeriksa penyambungan pada konfigurasi delay).
9.
Biaya.
Dengan
meningkatnya tingkat kerumitan rancangan, biaya biasanya akan meningkat. Biaya
ini harus dipertimbangkan berdasarkan biaya modifikasi rancangan lain agar
diperoleh efisiensi biaya.
Gambar 2.3 Segitiga Detonasi.
2.2.5
Penyempurnaan Rancangan Peledakan.
Untuk
menyempurnakan rancangan peledakan, dapat dilakukan dengan merancang kembali rangkuman
data, tentang :
1.
Jarak batu-batuan melayang (fly rock).
2.
Fragmentasi yang dihasilkan.
3.
Getaran dan airblast (getaran udara dari hasil peledakan) yang ditimbulkan.
4.
Konfigurasi tumpukan tanah (muck pile).
5.
Kemudahan penggalian.
6.
Bahan peledak yang gagal meledak.
7.
Sumber material oversize dan overbreak.
8.
Kinerja peledakan.
9.
Biaya keseluruhan dari pemboran,
peledakan, dan penggalian.
10. Mengendalikan
getaran.
11. Mencegah
batu-batu melayang dan hilangnya energi.
12. Melindungi
lapisan bahan galian.
2.2.6
Peledakan (Blasting).
Peledakan merupakan tindak lanjut dari kegiatan
pemboran, dimana tujuannya adalah untuk melepaskan batuan dari batuan induknya
agar menjadi fragmen-fragmen yang berukuran lebih kecil sehingga memudahkan
dalam pendorongan, pemuatan, pengangkutan, dan konsumsi material pada crusher yang terpasang.
2.2.7 Geometri Peledakan.
Untuk mencapai produksi peledakan batu gamping yang
diinginkan, maka hal yang perlu diperhatikan adalah parameter dari geometri
peledakan yang terdiri atas burden, spacing, sub drilling dan kedalaman lubang bor.
1.
Burden.
Burden
merupakan jarak dari muatan tegak lurus terhadap free face terdekat dan arah dimana pelemparan akan terjadi. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam penentuan burden
:
a
Karakteristik
batuan, yaitu sifat yang dimiliki oleh batuan seperti adanya bidang-bidang
lemah seperti retakan atau rekahan (discontinue ).
b
Jenis
bahan peledak yang digunakan yaitu bahan peledak yang berupa ANFO dengan
karakteristik menghasilkan banyak gas adalah cocok digunakan untuk jenis batuan
yang memiliki retakan untuk memindahkan material.
Untuk memperkirakan burden maka dapat di tentukan dengan pendekatan teori “ Anderson “
yang merupakan teori empiris yang sesuai dengan kondisi bahan galian baik
kekerasannya maupun struktur geologi yang ada didalamnya sehingga diharapkan
dapat menghasilkan nilai peledakan yang bagus sesuai target kuantitas dan
kualitas yang di inginkan.
|
|
Gambar 2.4. Geometri Peledakan.
Keterangan
:
B = Burden.
S = Spacing.
H = Kedalaman
lubang tembak.
L = Tinggi
jenjang.
PC = Tinggi
isian bahan peledak.
J = Sub drilling.
T = Stemming.
2.
Kedalaman
Lubang Ledak.
Secara teoritis kedalaman lubang ledak tidak boleh
lebih kecil dari burden. Hal ini
untuk menghindari terjadinya “over
break“ atau “createring“.
3. Spacing.
Spacing adalah jarak antara lubang-lubang bor dirangkai
dalam satu baris (row) dan diukur
sejajar terhadap pit wall, biasanya spacing tergantung pada burden, kedalaman lubang bor dan letak
primer.
4. Tinggi Jenjang (i).
Secara Spesifik tinggi jenjang maksimum sangat
dipengaruhi oleh peralatan bor dan alat muat yang tersedia. Ketinggian jenjang
disesuaikan dengan kemampuan alat bor dan diameter lubang. Lebih tepatnya,
jenjang yang lebih rendah dipakai diameter kecil demikian pula sebaliknya.
5. Sub drilling (J).
Sub
drilling adalah bagian dari lubang
tembak di bawah permukaan jenjang (bench).
Penggunaan sub drilling adalah dimaksudkan agar batuan terbongkar secara full face sebagaimana yang diterapkan.
Apabila batuan tidak terbongkar secara full
face akan mengakibatkan lantai yang tidak rata atau adanya
tonjolan-tonjolan yang akan menyulitkan kegiatan pemuatan dan pengangkutan.
6. Stemming
(T).
Stemming
disebut juga “Collar”. Sangat menentukan stress balance dalam lubang ledak. Fungsi lainnya adalah mengurung
gas yang timbul serta mengurung air blast.
7. Powder Colomb.
Powder Colomb merupakan
bagian dari lubang bor yang akan terisi oleh bahan peledak, merupakan selisih
dari kedalaman lunag ledak dengan steaming.
Powder Coloumb menentukan banyaknya
pemakaian bahan peledak yang dipakai dalam sebuah lubang bor.
2.2.8 Pola Peledakan.
Terdapat
beberapa cara untuk menganalisis geometri peledakan yang telah diperkenalkan
oleh para ahli, antara lain : Anderson (1952), Pearse (1955), R.L. Ash (1963),
Langefors (1978), Konya (1972), Foldesi !980), Olofsson (1990) dan lainnya.
Analisis tersebut menyajikan batasan konstanta untuk menentukan dan menghitung
geometri peledakan, terutama menentukan ukuran burden berdasarkan diameter
lubang ledak, kondisi batuan setempat dan jenis bahan peledak. Disamping itu,
produsen bahan peledak memberikan cara coba-coba (rule of thumb) untuk menentukan geometri peledakan, diantaranya ICI Explosive, Atlas Powder, Company, Sasol
SMX Explosives Engineers Field Guide dan lain-lain.
1.
Rancangan
menurut R. L. Ash
Burden dihitung
berdasarkan diameter lubang ledak dengan mempertimbangkan konstanta KB
yang tergantung pada jenis atau grup batuan dan bahan peledak. Konstanta KB
dihitung sebagai berikut :
Di mana :
KB
= Konstanta Burden.
KB.std = Konstanta yang tergantung jenis
batuan dan bahan peledak.
(Lihst Tabel 2.1)
Tabel
2.1.
Burden standar (KB.std) menurut R.L. Ash
Selanjutnya dimensi geometri peledakan
dihitung sebagai berikut :
-
Burden
(B).
-
Kedalaman Lubang Ledak (L).
-
Subdrilling
(J).
-
Stemming
(T).
-
Spasi (S).
KS untuk
mengukur spasi tergantung pada kondisi retakan (kekar) di sekitar lokasi yang
akan diledakkan, jumlah bidang bebas dan system penyalaan (firing) yang diterapkan. Beberapa contoh kemungkinan perbedaan
kondisi lapangan juga dapat mempengaruhi perhitungan sebagai berikut :
a.
Bila orientasi antar retakan hamper
tegak lurus, S = 1,41 B
b.
Bila orientasi antara retakan mendekati
60o, S = 1,15 B dan menerapkan long
delay
c.
Bila peledakan dilakukan serentak antara
baris, maka ratio spasi dan burden (S/B)
dengan pola bujursangkar (squarc pattern).
d.
Bila peledakan dilakukan pada bidang
bebas yang memanjang (S/B) dengan pola V-Cut
bujursangkar dan penyalaan tunda close
interval.
2.
Rancangan
menurut C. J. Konya
Burden
dihitung berdasarkan diameter lubang ledak,
jenis batuan dan jenis bahan peledak yang diekspresikan dengan densitasnya.
Di mana :
B = Burden
(ft).
De = Diameter bahan peledak (inci).
pe = Berat jenis bahan peledak.
pr = Berat jenis batuan.
Spasi ditentukan berdasarkan system delay yang direncanakan dengan
kemungkinan sebagai berikut :
-
Penentuan diameter lubang dan tinggi
jenjang mempertimbangkan 2 aspek, yaitu efek ukuran lubang ledak terhadap (1)
fragmentasi, air blast, fly rock dan
getaran tanah, juga (2) biaya pengeboran. Tinggi jenjang (H) dan burden (B) sangat erat hubungannya untuk
keberhasilan peledakan dan ratio H?B (stiffness
ratio) yang bervariasi memberikan respon berbeda terhadap fragmentasi, air blast fly rock dan getaran tanah
yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel
2.2.
Tabel
2.1.
Burden standar (KB.std) menurut R.L. Ash
Sementara
diameter lubang ledak ditentukan secara sederhana menggunakan Peraturan (Rule of Five), yaitu ketinggian jenjang
(ft) “Lima” kali diameter lubang ledaknya (inci).
3.
Rancangan
menurut ICI – Explosive.
Dalam merancang
peledakan hal pertama yang dipertimbangkan adalah kedalaman lubang (H) dan
diameter lubang ledak (D), yaitu :
a. Kedalaman
lubang (H) disesuaikan dengan kondisi batuan setempat, peraturan yang berlaku
dan ukuran alat muat yang akan digunakan atau secara empiris H = 60D – 140D.
b. Burden (B).anatar
baris, B = 25D – 40D.
c. Spasi
(S) antar lubang ledak sepanjang baris, S = 1B – 1,5B.
d. Subgrade (J),
J = 8D – 12D.
e. Stemming (T),
T = 20D – 30D.
f. Powder factor (PF),
Burden dan
spasi dapat berubah tergantung pada sekuen penyalaan yang digunakan, yaitu :
I.
Tipe sistem penyalaan tergantung pada
bahan peledak yang dipilih dan peraturan setempat yang berlaku.
II.
Delay
antar
lubang sepanjang baris yang sama disarankan minimal 4 ms per meter panjang
spasi.
III. Delay minimum
antara baris lubang yang bersebrangan antara 4 ms – 8 ms per meter.
Dikhawatirkan apabila lebih kecil dari angka tersebut maka tidak cukup waktu
untuk batuan bergerak ke depan dan konsekuensinya bagian bawah setiap baris
material akan tertahan.
IV. In hole delay direkomendasikan
untuk meledak terlebih dahulu sampai seluruh surface delay terpropagasi seluruhnya.
Comments
Post a Comment